Cerpen Remaja “Hukuman Terindah”

Hukuman Terindah

 

“Sally!”anak-anak kelas X-2 semua serentak menyoraki namanya.

Cewek berkaca mata itu hanya duduk merunduk, tidak berani melihat sekeliling. Karena semua setuju, Sally pun diangkat jadi ketua kelas itu.

Apa aku terlihat cocok untuk mengambil posisi itu? pikirnya. Tapi apa boleh buat?

Inilah hari pertama Sally. Sally yang lembut ditambah kepribadiannya yang sedikit pemalu harus menjalankan tugasnya sebagai ketua kelas. Apalagi dia belum ada teman sebangku, jadi dia bakalan sendiri menghadapi hal yang merisaukannya.

Esoknya, pagi –pagi Sally uda ada di kelas, membaca novel. Tak lama kemudian, seorang cowok ganteng masuk.

“Eh, kamu kelas sini ya?”

“Iya, emang kenapa?” Rico mengangkat suara.”Nggak boleh ?”

”Huh, sebel. Cowok sombong, nanya aja nggak boleh apa?“ kesal Sally.

Bel masuk sudah berbunyi. Hari ini masuk les fisika, bidang studi Pak Hendro. Beberapa menit saja, papan sudah dipenuhi hiasan berbagai rumus dari Pak Hendro. Memang sudah tradisinya les fisika.

Selama pelajaran Fisika, anak-anak serius mencatat, hanya anak baru itu yang tidak mencatat, mengobrol .Rupanya dua anak sini tuh teman lamanya . Ngomong si nggak apa-apa, tapi cowok itu sangat suka meledek anak-anak. Ledekannya juga pedas dan menusuk. Tapi nggak ada satu manusia pun yang berani lawan dia, aku juga sih…hhehe

“Hei,yang duduk paling pojok?” tanya Pak Hendro, “anak baru?”

“Iya, Pak,”

“Namamu siapa?”

“Saya Rico, Pak,”

Wah..namanya keren juga ya, puji Sally dalam hati.

“Kalau ada yang kurang tau, bisa ditanyakan dengan ketua kelas. Dia pasti bantu kamu kok. Ya kan Sally?”

“Ee…ii..iyaa Pak,”Sally gugup sehingga terbata-bata jawabnya.

“Kok gagap gitu Sal jawabnya?”

“Grogi Pak.. Kayak nggak tau aja.. haha,” tawa anak-anak. Sally pun tersipu-sipu.

Semua yang dibicarakan Pak Hendro pasti tak lari dari Sally sama Rico. Entah disuruh Sally membantunya, membimbingnya lah sampai-sampai dibilang mereka itu pasangan yang serasi. Waduh..bagaimana ya kalau itu beneran terjadi? Nggak terasa mereka sudah hampir sebulan sekelas, tapi belum kenal satu sama lain. Untungnya,sekarang Sally mendapat satu teman sebangku, namanya Jeni . Mereka kelihatan sangat akrab.

“Uda sombong, banyak gaya pula,” gumam Sally.

“Lagi ngomongin siapa kamu,Sal?”

“Itu lho, anak baru tuh,”

“Masa sih? Mungkin karena kamu belum kenal dia aja, makanya bilang begitu, Sal,”

“Yah, aku juga nggak pernah berpikiran untuk kenal cowok kayak itu,”

“Nggak boleh gitu kamu. Kamu kan ketua kelas juga, harus akrab sama anak-anak kelas ini. Bukan begitu, Sal?”goda Jeni.

Tak tau kenapa, belakangan ini Sally jadi sering merhatiin si Rico.Tiap kali terdengar tawa canda Rico, Sally pasti mengarahkan pandangan ke Rico. Mungkin Sally mulai jatuh hati sama Rico. Makin hari Sally makin berani melirik tempat Rico, selalu muncul senyuman kalau melihat tingkah Rico yang kekanak-kanakan itu.

Hari Kamis, identik dengan pemeriksaan tugas matematika mingguan. Jam 6 kelas sudah penuh, tak lain sibuk menyalin tugas. Sally hanya duduk tenang, membaca novel seperti biasanya. Tiba-tiba seseorang berdiri tegak di hadapannya.

“Kamu bisa bantu aku?” tanya Rico. “Cuma mau pinjam tugas matematika. Aku mau salin,”

“Hah? Kalau nyalin, aku nggak bisa pinjamin,” jawab Sally tegas.

“Nanti ketahuan Bu Wina, aku yang mampus. Aku nggak mau ambil resiko,ah!”

Sally nggak mau pinjamkan lantaran Bu Wina itu guru killer, bisa-bisa Sally nggak dapat nilai tugasnya.

“Yakin nggak mau pinjamkan?”

Rico langsung menyambar tugas Sally yang ditaruh di meja tanpa basa-basi lagi.

“Eh, balikin buku aku! Kok maen nyuri sih!” marah Sally.

Rico nggak peduli, dia hanya menyalin terus tanpa menghiraukan Sally. Karena Rico tidak mengembalikan bukunya, Sally tak sabar lagi. Sally berusaha menarik bukunya .Tak berhasil juga. Dia pun terus mencoba. Tidak, hal buruk !

Srreeet… buku Sally terkoyak. “Huah, buku aku koyak!”teriak Sally.

“Siapa suruh kamu nggak mau pinjam aku?”

Air mata Sally pun mengucur ke pipinya. Tugas yang dikerjakan dengan rapi, sekarang hanya tinggal sobekan buku.

“Ada apa kamu, Sal? Mengapa kamu nangis?”

“Jen, nggak ada harapan lagi, bakal dapat nol nilai tugas aku!”, jawabnya terisak-isak.

“Apa?  Kok bisa sih, Sal?”

“Cowok nyebelin itu,mau pinjam tugas aku, aku nggak ngasih. Dia langsung narik buku aku. Pas aku mau rebut balik, tersobek.”tangis Sally, “Gimana Jen?”

“Wah,cepat salin lagi Sal!! Bentar lagi kan uda masuk!”cemas Jeni.

“Anak-anak, tugasnya dikumpul ya!”pinta Bu Wina.

“Tuh kan, Bu Wina sudah masuk,” Sally cemberut.

“Kok Cuma 44?”Bu Wina heran. Dua orang lagi siapa dan kenapa tidak kumpul?”

“Saya, Bu. Sebenarnya saya sudah selesai,tapi koyak,Bu,”jawabnya lesu.

“Itu sama saja kalau kamu belum siap. Mengapa orang malas seperti kamu bisa dipilih sebagi ketua kelas? Huh..” nampaknya Bu Wina kesal.

“Ibu tidak suka anak malas. Keluar! Kamu Ibu hukum membersihkan lapangan! Jangan masuk sebelum lapangannya bersih,” Bu Wina sangat kesal dan kecewa.

Sally pun keluar.Langkahan kakinya sungguh lemas.Dia sangat malu kepada Bu Wina, apalagi dengan teman sekelas.Tiba-tiba Rico berdiri dan berjalan hendak keluar tanpa permisi. “Eh, mau ke mana kamu, Nak?”

“Saya mau bantu Sally, Bu” tegas Rico, “ karena saya yang menyobek bukunya,”

Rico tersenyum dan segera menyusul Sally. “Sally, tunggu aku,”panggil Rico.

“Ngapain sih kamu ikut-ikutan?” ngoceh Sally.

“Kok marah? Seharusnya kamu itu syukur aku uda mau bantuin kamu.”

“Syukur?? Kalau kamu nggak sobek buku aku, semuanya kan nggak bakalan terjadi. Huhh!!” Kali ini darah Sally benar-benar kesal dan sangat marah.

“Aku robekin buku kamu? Jangan sembarang menuduh deh!”

“Kamu.. !”

“Iya..iya.. sudahlah..” potong Rico.

Karena terlalu asyik beradu mulut, Sally tidak memperhatikan langkahnya. Tanpa sengaja, dia menginjak plastik bekas permen. Waduh gawat!

Sruuttt..!! Ahh.. Apa yang ditakutkan terjadi, Sally tergelincir. Sapu yang tengah dipegang pun terhempas ke udara. Kacamatanya juga jatuh. Saat itu Rico hanya berada kurang dari semeter dari tempat Sally. Rico langsung refleks menangkap Sally. Untung saja Sally tidak sempat mendarat ke lapangan kasar tersebut.

Sally kelihatan sangat terkejut dan bengong sejenak. Tanpa kacamatanya,penglihatannya jadi agak kabur. Melihat Rico yang menolongnya itu seperti pangeran yang lemah lembut, sedangkan dia seperti Cinderella yang tengah menyapu tadi. Wah, indah sekali.

“Woi!! Ngapaen kamu? Pake acara bengong segala. Cepat bangun! Berat tau,”

“O..oh iya, maaf,” Sally tersadar dari lamunannya.

“Nih kacamata kamu..”

“Makasih  ya uda nolongin aku tadi,” Wajah Sally jadi merah.

“Ya aku cuma mikir aja, kalau tadi kamu jatuh, terus pingsan, belum lagi harus gendong ke klinik. Yang repot kan aku juga,”ngelak Rico.

Walau dari luar Rico nampaknya cuek dan nggak peduli, sebenarnya Rico sangat khawatir dengan Sally.

“Iya.. iya.. Nanti aku traktirin deh ..Mau nggak?”, komentar nya langsung.

“Ah, nggak mau…”

“Maunya apa sih? Terserah deh,”

“Balasannya..”,pikir Rico. “Cium dulu dong!“ Rico mendekatkan pipinya ke depan Sally.

“Huh, dasar cowok !!” Sally kesal mendengarnya, dia pun hendak memukul Rico dengan sapu. Tapi berhasil ditahan Rico.

“Oh,tidak bisa .. haha,” tawa Rico.

Karena tidak puas,Sally langsung mengejar Rico, sedangkan Rico menggunakan langkah seribunya.Mereka berkejaran di lapangan. Tawa canda mereka pun terdengar amat jelas.

“Mereka ke mana sih? Kok belum masuk?”cemas Jeni.

Jeni pun berpura-pura permisi keluar hendak melihat apa yang terjadi.

“Wah !!” Jeni sangat terkejut sampai-sampai mulutnya terbuka lebar. “Apa-apaan mereka ini? Waduh.. waduh kalau ketahuan bisa gawat. Ah, pura-pura nggak nampak aja deh,” Jeni bergegas kembali ke kelas.

Teng.. teng …teng…

Sudah 2 jam pelajaran sejak mereka dikeluarkan dari kelas Bu Wina. Tapi tampaknya lapangan masih penuh sampah.

Sally pun berhenti, nafasnya juga terengah-engah.

“Duhh.. laper nih!” ucap Sally seraya memegang perutnya. Mendengar perkataan Sally, Rico langsung menarik tangan Sally.

“Ayo ikut aku!”

“E…eh mau ke mana nih? Tanganku sakit!”

“Nanti juga tau,” jawabnya singkat.

Rupanya Rico membawa Sally ke kantin. ”Bu, satenya 2 piring ya,”pesan Rico.

“Ngapain kamu pesan sate?”tanya Sally.

“Emangnya untuk apa kalau bukan dimakan?”

“Hah?? Aku nggak berani ah!” Sally bangkit dan hendak meninggalkan tempatnya.

“Uda..” Rico menahan tangan nya. “Kamu duduk aja kenapa sih?”

“Anggap saja ini balasan karena uda menolong kamu tadi,” jawabnya pelan.

“Tapi..” Sally kelihatan sangat cemas.

“Kamu tenang aja deh.. “ kata Rico meyakinkan Sally.

“Iya, iya.. “ senyum Sally.

“Kamu manis yah kalau senyum,” puji Rico.

“Masa sih? Mm..makasih,” Keduanya saling menatap dan tersenyum.

Rico yang kali ini beda banget dengan yang selama ini Sally kenal. Dia mendapati Rico yang baik, care dan juga lembut. Benar tipe cowok yang sangat disukainya. Tapi apakah Rico juga mempunyai perasaan yang sama?

“Aku pulang…” tuturnya sangat gembira.

“Kok hari ini senang amet? Ada apa?”tanya Kak Lisa, saudara sepupunya yang sering berkunjung ke rumahnya.

“Nggak ada apa-apa kok, Kak..” Sally nampak malu-malu.

“Cie.. cieh… Ditembak cowok ya?” ledek Kak Lisa.

“Ah, nggak ah. Hm, Sally mau kerjain tugas dulu,”

Usai mandi, Sally duduk di depan meja belajarnya untuk menyalin tugas matematika tadi. Sally merasa sangat senang, mungkin kejadian itu merupakan hal terindah yang pernah dia dapati selama sekolah bertahun- tahun. Kemudian Sally mengangkat kepalanya, meletakkan dagunya pada telapak tangannya yang ditegakkan pada meja. Canda tawa Rico benar-benar teringat betul sama Sally. Wahh..sepertinya Sally sudah dimabuk asmara.

“Hai Sal! Kok pagi-pagi uda di kelas?” sapa teman akrabnya itu.” Wajahnya juga beda, keliatan ceria banget.. Ada apa sih?” pancing Jeni.

Mendengar ucapan Jeni, Sally pura-pura tidak mendengar. Dia hanya meneruskan membaca.

“Sal.. aku ngomong sama kamu nih,”Jeni menyita buku yang tengah dibacanya.

“E..eh kembalikan Jen. Aku kan lagi baca,”

“Jawab dulu dong ..” wajah Sally langsung merah. ”Nggak ada apa-apa kok,” jawab Sally sedikit terbata-bata.

“Ahh.. bohong kamu. Walau kamu tutupi, aku juga tau kok..”

“Tau apa Jen?”Sally terpancing.

“Soal Rico lo..  Cuitt.. Cuittz..”

“Jangan gitu dong, nanti semua pada ngeliatin kita,”

“Makanya.. cerita sama aku dong. Ya? Ya? Mau ya?” rengek Jeni dengan sikapnya yang agak manja.

“Mm.. iya deh. Aku cerita…”

Sally pun menceritakan semuanya saat kemarin berdua dengan Rico.

“Ohh, gitu rupanya. Hm..Hm. Selamat deh buat temanku yang tercinta ini,”tawa Jeni.

Sally hanya senyum.

“Berarti di hari Valentine nanti bakalan ada pasangan baru nih,”

“Uda ah.. Aku juga nggak berharap banyak,”mimik Sally langsung berubah murung.

“Mana mungkin dia bisa suka cewek seperti aku,”

“Jangan pesimis gitu dong, Sal,”Jeni menyenggol Sally pelan.

“Ah aku ada ide!”

“Ide apa?”

“Aku rasa kamu cuma butuh berdandan sedikit..”

“Apa? Nggak ah, aku kan nggak bisa berdandan,”murungnya. “Nanti malah makin jelek,”

“Aku kan pande. Aku yang akan dandanin kamu,”

“Benar? Iya deh..” Sally langsung semangat.

Sejak kejadian hari itu, Sally jadi agak malu sama Rico. Dia tidak pernah lagi melirik Rico, hanya saja suara yang dia dengar. Itu juga sudah cukup.

Hari ini semua toko penuh. Semua anak-anak sibuk membelikan mawar, coklat atau boneka bear dan dibungkus dengan kertas yang indah.

“Wah, ada apa? Kok rame?” gumam Sally.

“Jen, semua pada diskon ya?”

“Ya e lah Sal.. Bukan diskon, tapi lusa itu hari spesial.”

“Hari spesial? Ada apa dengan hari Jumat nanti?” Sally masih tidak ingat.

Memang Hari Valentine tidak pernah menjadi momen yang indah baginya. Tidak lama, hari yang ditunggu pun tiba.

“Sal, aku dapat kado dari cowokku!” loncatnya kegirangan. “Wah, kira-kira apa ya?

Sally hanya senyum lemah, tidak bersemangat.

“Wah.. dia memberiku cincin dan boneka kekasih yang lucu ini..”Jeni sangat gembira.

Hari ini Sally memang tampil beda. Biasanya dia berkacamata dengan kepang satu kesukaannya. Sekarang dia memakai kontak lens dengan rambutnya yang tergerai indah.

Di sekolah juga digelar acara bagi para cowok jomblo untuk mengutarakan isi hati mereka kepada cewek yang ditaksirnya.

“Teman-teman! Selamat pagi! Apa kabar semuanya?”

“Baik!” jawab anak-anak sangat semangat.

“Semua pasti sudah tau kan acara ini? Nah, sekarang yang berani, maju ke depan? Hayoo. Bagi pasangan baru diberi hadiah lho. Hanya untuk 3 cowok yang berani lho !!”

Dua cowok sudah memberanikan diri mereka. “Tinggal satu kesempatan nih. Yang lain gimana?“

“Wah, Sal.. Si Rico mana yah? Seharusnya dia kan ikut”kata Jeni sambil melirik ke sana kemari.

“Itu tidak mungkin, Jen. Aku ke kelas dulu!” Sally mengira harapannya semua sudah sirna.

“Aku!!” Suara itu sangat tidak asing. Anak-anak menoleh ke arah suara tersebut.

Tapi Sally pura-pura tidak mendengar,“Yah, sekarang sudah lengkap, dan siapa yah 3 cewek yang beruntung itu?” anak-anak kembali bersorak.

Dua cowok itu sudah mengungkapkan perasaan mereka. Kini tinggal Rico. Banyak cewek berdiri menanti Rico, berharap nama mereka lah yang disebutkan Rico.

“Aku Rico. Sudah lama aku menyukainya …” cerita Rico.

“Siapa?? Pasti aku deh, ya kan Rico?”seru seorang cewek.

“Cewek itu Sally! “

Sally yang hampir meninggalkan tempat itu langsung terhenti, dia terhentak. Dia diam sejenak, tak berkata apa-apa.

“Maukah kamu jadi pacar aku?” ungkap Rico penuh kesangsian. Rico sangat tegang.

“Sal, jawab!” sorak Jeni.

“Apakah cowok ini akan mendapat pasangan di hari kasih ini?”, tanya pembicaranya memanaskan suasana.

“Aku… aku… “ Sally menundukkan kepalanya menandakan iya. Melihat anggukan Sally, Rico langsung lari menuju tempat Sally berdiri dan memeluknya dengan erat. Sally hanya diam, tetapi dalam hatinya dia sangat bahagia.

“Makasih Sal. Aku sayang banget sama kamu. Aku, aku sangat senang!”, wajah Rico dihiasi sejuta senyum.

“Aku juga sayang sama kamu Ric!  Tapi jangan erat begini dong, aku nggak bisa bernafas,” jawab Sally malu.

“Ouh, maaf Sal..” Rico meringankan pelukannya.

Sally menoleh ke arah Jeni, tersenyum. Jeni membalasnya dengan kedipan mata.

Lalu Rico mengecup kening Sally diikuti tepukan tangan yang sangat meriah. Sungguh hari penuh kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s