Kromium Dalam Pembuatan Payung

KATA PENGANTAR

Penulis mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya hingga makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

Penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada segala pihak yang telah membantu dalam penyusunan tugas ini hingga selesai tepat waktu walau masih jauh dari sempurna. Adapun judul yang diangkat adalah ”KROMIUM DALAM INDUSTRI PEMBUATAN PAYUNG” sebab penulis mengambil kesimpulan bahwa judul di atas perlu dibicarakan, diteliti dan dikembangkan.

Penulis sangat menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan, terutama dari segi isi maupun penulisan kata yang digunakan yang dikarenakan keterbatasan data dan sumber referensi. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang bersifat membangun, akan penulis terima dengan senang hati.

Medan, 11 Januari 2012

Penulis,

 

                                                                                  

DAFTAR ISI

 

Halaman

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I      PENDAHULUAN

A. Kromium Dalam Industri……………………………………………….1

BAB II     PEMBAHASAN

A. Kromium…………………………………………………….………….4

B. Industri Pembuatan Payung………….…………………………………5

C. Bahaya Kromium…………………………………….………………….7

D.Daya Racun Kromium………………………………………………….11

BAB III    KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan sebuah negara yang kaya dengan potensi alamnya. Selain itu Indonesia juga sedang melakukan pembangunan negeri. Dalam pembangunan ini, maka banyak muncul industri sebagai penguat ekonomi. Salah satunya adalah industri pelapisan logam. Industri ini banyak memberikan manfaat, tetapi juga meninggalkan banyak pencemaran lingkungan dan penyakit yang menghinggapi para pekerjanya.

Menurut Mukono, dalam jumlah kecil kromium (Cr) dibutuhkan oleh manusia. Yaitu sebagai obat penguat stamina untuk beraktivitas sehari-hari dalam jumlah tertentu. Tetapi akan berbahaya kalau berlebihan terpapar oleh tubuh manusia. Akibatnya dapat berupa penyakit kronis, berlangsung selama bertahun-tahun, kalau mengenai salah satu organ tubuh.

Environmental Protection Agency (EPA) Amerika Serikat menggolongkan kromium sebagai suatu zat yang bersifat karsinogenik. Pekerja perusahaan yang menggunakan proses pelapisan kromium berisiko tinggi terimbas pencemaran kromium. Akumulasi uap yang terhirup saat proses pelapisan kromium bisa menyebabkan sesak napas dan berujung pada kanker paru-paru. Bukan itu saja, kulit yang terpapar kromium terus menerus akan menimbulkan ulserasi (borok), ulserasi pada selaput lendir hidung, vascular effect (pembuluh darah pada aorta rusak), anemia dan membuat tubuh lesu, menurunkan imunitas tubuh, gangguan reproduksi dan gangguan ginjal. Sejak 1982, penyakit dermatitis telah menjadi salah satu dari sepuluh besar penyakit akibat kerja (PAK) berdasarkan potensial insidens, keparahan dan kemampuan untuk dilakukan pencegahan (NIOSH 1996).

01

02

Biro statistik Amerika Serikat (1988), penyakit kulit menduduki sekitar 24% dari seluruh penyakit akibat kerja yang dilaporkan. Setengah sampai dua pertiga dermatitis akibat kerja terjadi di pabrik. Walaupun insiden penyakit dermatitis akibat kerja terus menurun secara perlahan sejak tahun 1974, hal tersebut diyakini karena tidak diketahui atau karena kesalahan dalam klasifikasi penyakit. The National Institute of Occupational Safety Hazards (NIOSH) dalam survei tahunan (1975) memperkirakan angka kejadian dermatitis akibat kerja yang sebenarnya adalah 20 -30 kali lebih tinggi dari kasus yang dilaporkan (Thaha, 1997).

Amerika Serikat mencatat bahwa dermatitis akibat kerja merupakan 40% dari semua penyakit akibat kerja yang non traumatik. Di Inggris lebih banyak hari kerja yang hilang karena penyakit dermatitis kontak dibandingkan dengan hari kerja yang hilang karena penyakit akibat kerja lainnya. Pada pekerja laki-laki diperkirakan 650.000 hari kerja yang hilang, sedangkan wanita sebanyak 200.000 hari kerja yang hilang pertahun (Djarismawati, 2004). Di Amerika Serikat pula, 90% klaim kesehatan akibat kelainan kulit pada pekerja diakibatkan oleh dermatitis kontak. Antigen penyebab utamanya adalah nikel, potasium dikromat dan parafenilendiamin. Konsultasi ke dokter kulit sebesar 4-7% diakibatkan oleh dermatitis kontak.

Dermatitis tangan mengenai 2% dari populasi dan 20% wanita akan terkena setidaknya sekali seumur hidupnya. Anak-anak dengan dermatitis kontak 60% akan positif hasil uji tempelnya. Di Skandinavia yang telah lama memakai uji tempel sebagai standar, maka insiden dermatitis kontaknya lebih tinggi dari pada di Amerika. Indonesia telah banyak melakukan penelitian untuk mendapatkan data yang mendukung mengenai penyakit ini. Data dari Balai Hiperkes Depnaker RI

03

(sejak tahun 2005 menjadi Pusat Keselamatan Kerja dan Hiperkes), menunjukkan hampir 80% penyakit kulit akibat kerja adalahh dermatitis konak akibat kerja (Firdaus, 2002). Pada sub bagian alergi imunologi Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, Insidens dermatitis kontak akibat kerja pada tahun 196 adalah 50 kasus/tahun atau 11,9% dari seluruh dermatitis kontak (Effendi, 1997).

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. KROMIUM

Kromium adalah elemen yang secara alamiah ditemukan dalam konsentrasi yang rendah di batuan, hewan, tanaman, tanah, debu vulkanik dan juga gas. Kromium terdapat di alam dalam beberapa bentuk senyawa yang berbeda. Bentuk yang paling umum adalah kromium (0), kromium (III) dan kromium (VI). Kromium (VI) dan kromium (0) umumnya dihasilkan dari proses industri.

Kromium (III) terdapat di alam secara alamiah dan merupakan salah satu unsur nutrisi yang penting bagi manusia. Kromium (VI) dan kromium (0) umumnya dihasilkan dari proses industri. Kromium adalah logam baja berwarna abu – abu, ditambang dalam bentuk biji kromit, tidak berbau dan mengkilat. Kromium stabil pada tekanan dan temperature normal. Kromium dalam konsentrasi tertentu bersifat racun bagi manusia, hewan dan tumbuh – tumbuhan.

Kromium relatif stabil di udara dan air, tetapi setelah kontak dengan biota, air, udara dam tanah, akan berubah menjadi bentuk kromium trivalen. Diperkirakan substansi kromium didalam lingkungan sekitar 6,7 x 106 kg/tahun. (WHO,1988).

Senyawa kromium masing – masing mempunyai peranan yang berbeda di lingkungan dan efek yang berbeda pula terhadap kesehatan manusia sesuai dengan bilangan oksidasinya. Dilaporkan bahwa krom (VI) merupakan senyawa krom yang paling berbahaya (misalnya Kalium Chromat K2CrO4 atau CrO3).

Kromium di alam berada dalam bentuk senyawa : kromik sulfat, kromik oksida, kromik klorida, kromik trivalent, kalsium kromat, timbale kromat, kalium dikromat, natrium dikromat, seng kromat.

04

05

Kromium banyak memiliki sebutan lain (sinonim), diantaranya adalah :

  • Chrome atau chromo
  • Chromium element
  • Chromium metal
  • Metallic chromium
  • Chromium powder

Kromium memiliki sifat fisika dan kimia yang titik didihnya mencapai 26720 C, dengan titik lebur 1837 – 18770 C, serta memiliki berat jenis 7,20 pada suhu 28 C. Kromium tidak larut dalam air dan asam nitrat, larut dalam asam sulfat encer dan asam klorida.Kromium tidak dapat bercampur dengan basa, oksidator, halogen, peroksida dan logam – logam. Kromium dapat menyala atau mudah menyala, dapat terbakar secara spontan apabila terpapar di udara atau bila debu kromium bercampur dengan udara dapat terbakar atau meledak.

  1. INDUSTRI PEMBUATAN PAYUNG

PT Subur Emas Murni yang terletak di Jakarta Pusat adalah sebuah perusahaan pembuatan payung, dimana salah satu proses produksinya menggunakan kromium untuk pelapisan logam. Dalam proses kerjanya menggunakan tenaga kerja manusia yang kontak langsung dengan kromium. Keluhan terbanyak yang dirasakan oleh para pekerja di agian pelapisan logam adalah penyakit kulit seperti gatal-gatal, kult kemerahan bahkan sampai menimbulkan luka seperti borok atau koreng pada tangan dan kaki.

Kebanyakan pekerja yang bekerja pada industri pelapisan logam terpapar oleh kromium. Hal ini menyebabkan banyaknya pekerja yang menderita gatal-gatal. Bila gejala ini dibiarkan begitu saja, maka akan banyak pekerja yang menderita penyakit dermatitis.

06

Penggunaan

  • Kromium (0) digunakan dalam pembuatan baja (stainless steel) untuk menaikkan kekuatan, kekerasan dan resistensi logam.
  • Kromium (VI) dan kromium (III) digunakan untuk menyepuh logam (electroplating), pencelupan dan pewarnaan (dyes and pigment), penyamakan kulit (leather tanning) dan pengawetan kayu (wood preserving)
  • Proses pemurnian bahan kimia dan pembuatan katalis
  • Pembuatan zat warna

Selain itu, sumber kromium dapat berasal dari :

  • Pabrik yang memproduksi semen yang mengandung kromium
  • Pembakaran sampah pada kota-kota dan sampah yang berbentuk Lumpur
  • Kendaraan bermotor (knalpot)
  • Menara AC yang menggunakan kromium sebagai inhibitor
  • Limbah cair yang berasal dari lapis listrik, penyamakan kulit, dan industri tekstil
  • Sampah pada dari indusri yang menggunakan krom

Cara Pengukuran

Konsentrasi krom ditentukan dengan metoda 1,5 difenilkarbohidrazida, menggunakan reagen tunggal yang kering. Reagen ini mengandung buffer asam yang dikombinasikan dengan 1,5 difenilkarbohidrazida yang menghasilkan kompleks berwarna ungu bila terdapat kromium di dalamnya.

Intensitas warna ungu yang terbentuk, diukur pada λ 540 nm dengan menggunakan alat spektrofotometri UV-Visible.

07

  1. BAHAYA KROMIUM

Pemajanan Kromium Dalam Tubuh Manusia

Jalur pemajanan kromium melalui :

  1. Pernafasan

Cara masuk krom melalui saluran pernafasan adalah dengan menghirup debu kromium yang dihasilkan dari proses produksi. Krom (VI) ditemukan di zona pernafasan pada pekerja dibagian pengelasan dengan konsentrasi antara 3,8-6,6 µgr/m3 .

  1. Saluran pencernaan

Cara masuk krom dapat melalui makanan atau tertelan. Kandungan krom dalam makanan berkisar antara 5-250 µgr/kg. makanan yang mempunyai kadar kromium tinggi yaitu lada dan ragi bir (Schroeder et al, 1962).

  1. Kulit

Sifat dari senyawa krom seperti adam kromik, dikromat dan kromium (VI) selain iritan juga kororsif, bila terjadi kontak langsung dapat menimbukan alergi. Kromium khususnya kromat, banyak menimbulkan alergi dan penyebab dermatitis terbesar bagi pekerja. (Thorman et al., 1979).

Bahaya Akut (Jangka Pendek)

-Bila terhirup / inhalasi : bila debu atau uap kromium terhirup pada konsentrasi tinggi dapat menyebabkan iritasi.

- Bila kontak dengan kulit : kontak langsung dengan debu atau serbuk kromium dapat menyebabkan iritasi pada kulit.

08

-Bila kontak dengan mata : kontak langsung dengan debu atau serbuk kromium dapat menyebabkan iritasi pada mata.

-Bila tertelan : logam kromium sangat sulit diabsorbsi melalui saluran pencernaan. Absorbsi dalam jumlah yang cukup dari beberapa senyawa kromium dapat menyebabkan pusing, haus berat, sakit perut, muntah, syok, oliguria atau anuria dan uremia yang mungkin bisa fatal.

Bahaya Kronis (Jangka Panjang)

-Bila terhirup / inhalasi : paparan berulang dalam jangka waktu yang lama dari beberapa senyawa kromium dilaporkan menyebabkan borok (ulcerasi) dan berlobang (perforasi) pada nasal septum, iritasi pada tenggorokan dan saluran pernafasan bagian bawah, gangguan pada saluran pencernaan, tapi hal ini jarang terjadi, gangguan pada darah, sensitisasi paru, pneumoconiosis atau fibrosis paru dan efek pada hati hal ini jarang terjadi. Pada hakekatnya efek ini belum pernah dilaporkan terjadi akibat paparan logam.

-Bila kontak dengan kulit : paparan berulang dalam jangka waktu yang lama dari beberapa senyawa kromium dilaporkan menyebabkan berbagai tipe dermatitis, termasuk eksim “Chrome holes” sensitisasi dan kerusakan kulit dan ginjal. Pada hakekatnya efek ini belum pernah dilaporkan akibat paparan logam.

-Bila kontak dengan mata : paparan berulang dalam jangka waktu yang lama untuk beberapa senyawa krom dapat menyebabkan radang selaput mata (konjungtivities) dan lakrimasi. Pada hakekatnya efek ini belum pernah dilaporkan akibat paparan logam.

  Dampak kesehatan akibat pemajanan kromium

  • Efek fisiologi

Krom (III) merupakan unsure penting dalam makanan, yang mempunyai fungsi menjaga agar metabolisme glukosa, lemak, dan kolesterol berjalan normal.

09

Data kebutuhan krom perhari diperkirakan sekitar 50-200 µgr/hr. jarang terjadi defisiensi krom, bila kebanyakan terjadi pada penderita diabetes, malnutrisi dan mereka yang mendapat makanan melalui parenteral. Faktor utama terjadinya toksisitas dari krom adalah “oxidation state” dan daya larutnya. Krom (VI) mudah menembus membran sel dan akan terjadi reduksi didalamnya. Organ utama yang terserang karena krom adalah terhisap oleh paru-paru, organ ain yang bias terserang adalah ginjal, liver, kulit dan system imunitas.

  • Efek pada kulit

Asam kromik, dikromat dan kromiumVI selain iritan kuat juga korosif. Letak luka biasa di akar kuku, persendian dan selaput antara jari, bagian belakang tangan dan lengan. Karakteristik luka karena krom mula-mula melepuh (papulae) kemudian terbentuk luka dengan tepi yang meninggi dan keras. Penyembuhan luka lambat, bias beberapa bulan dan luka tidak sakit diduga ada gangguan syaraf perifer. Hingga 20% pekerja menjadi dermatitis.

Dermatitis alergika dengan eksim pernah dilaporkan terjadi pada pekerja percetakan, semen, metal, pelukis dan penyamak kulit. Diperkirakan bahwa krom (III) protein kompleks yang bertanggungjawab atas terjadinya reaksi alergi.

  • Efek pada saluran pernapasan

Efek iritasi paru-paru terjadi pada pemajanan (menghirup debu kromium) dalam jangka panjang dan mempunyai efek terhadap iritasi kronis, penyumbatan dan hiperemia, renitis kronis, polip, trakheobronkhitis dan paringitis kronis. Dapat terjai reaksi delayed anaphylactic reacion. Pada pekerja pelapisan dan penyamakan kulit sering terjadi kasus luka pada mukosa hidung (mukosa bengkak, ulserasi septum, perforasi septum), ini terjadi bila terpajan secara periodik paling sedikit 20 µg/m3 di tempat kerja.

10

Di Amerika Serikat mengijinkan kadar kromium sekitar 100 µg/m3 dalam 8 jam kerja. Jangka pemajanan pekerja yang mengalami ulkus di mukosa hidung berkisar antara 5 bulan hingga 10 tahun.

  • Efek pada ginjal

Studi terhadap tukang las dan pelapisan kromium, pajanan lebih dari 20 µg/m3 mengakibatkan kerusakan pada tubulus renalis. Gangguan pada ginjal terjadi setelah menghirup dan menelan kromium. Pernah ditemukan kerusakan pada lomerulus ginjal.

Kenaikan kadar Beta-2 mikroglobulin dalam urin merupakan indikator adanya kerusakan tubulus. Urinary treshold untuk efek nefrotik diperkirakan 15 µg/gram kreatinin.

  • Efek pada hati

Pemajanan akut kromium dapat menyebabkan nekrosis hepar. Bila terjadi 20% tubuh tersiram asam kromat akan mengakibatkan kerusakan berat hepar dan terjadi kegagalan ginjal akut.

Dari data yang terbatas, disimpulkan bahwa inhalasi kronis kromium dapat juga mengakibatkan efek pada hepar. Hepatitis akut dengan kuning (jaundice) pernah dilaporkan pada pekerja wanita yang telah bekerja di pabrik pelapisan krom selama 5 tahun. Pada tes didapatkan adanya kromium dalam jumlah besar dalam urin dan pada biopsi liver terlihat adanya kelainan.

  • Efek karsinogenik

Studi epidemiologi secara kohort jelas menunjukkan adanya daya karsinogen.

11

Pemantauan pada pekerja di industri yang memproduksi kromat, yang bekerja lebih dari 1 tahun anatara tahun 1937 – 1949, ternyata 18,2 % menderita kanker paru-paru. Studi terhadap pekerja di industri pigmen kromium, pelapisan kromium dan campuran ferokrom secara statistik terlihat ada hubungan secara bermakna antara pekerja yang terpajan kromium dengan kanker paru-paru. Telah diketahui bahwa kromium (VI) sebagai penyebab kanker paru, sedangkan kromium (III) tidak. Kanker paru timbul 20 tahun setelah terpajan kromium dengan jangka waktu pemajanan sekitar 2 tahun.

  • Efek terhadap pertumbuhan dan reproduksi

Kromium (III) bahan esensial yang bisa menembus plasenta, kurang dari 0,5 % kromium (III) ditemukan menembus plasenta pada tikus, bila diberikan kromium sebagai garam. Efek pada binatang terjadi cleft palatum, hidrocefalus, proses pementukan tulang terhambat, bengkak, dan incomplete neural tube closure (penutupan tidak lengkap neural tube).

  1. DAYA RACUN KROMIUM

Faktor yang mempengaruhi daya racun kromium

1. Umur

Telah lama diketahui bahwa neonatus dan organisme yang sangat muda umurnya lebih rentan terhadap kkromium dibandingkan dengan yang llebih dewasa. Untuk sebagian besar toksikan, organisme muda 1,5 sampai 10 kali leih rentan daripada yang dewasa. Anak-anak kecil sangat rentan terhadap toksikan, karena biasanya kepekaan dan tingkat penyerapan dalam saluran cerna lebih besar. Selai itu dapat pula disebabkan oleh defisiensi berbagai jenis enzim detoksikasi.

12

Penelitian lain menunjukkan bahwa sejalan dengan bertambahnya umur, faktor-faktor diet misalnya, defisiensi prein, vitamin C dan vitamin D, menyebabkan mekanisme kerja enzim mengalami penurunan dan terganggunya fungsi ekskresi ginjal, sehingga menyebabkan hewan, dan manusia yang telah tua menjadi lebih rentan terhadap kromium dan zat toksikan lainnya (WHO, 1981).

2. Berat Badan

Sejumlah penelitian karsinogenesis telah menunjukkan bahwa pengurangan jumlah zat makanan dapat menurunkan kejadian tumor. Pentingnya diet pada karsinogenesis lebih jauh diperlihatkan oleh fakta bahwa tikus dan mencit yang diberi diet kaya lemak akan menyebabkan berat badannya naik dan lebih mudah terkena tumor, dibandingkan dengan yang diberi diet terbatas.

Distribusi zat toksik dalam tubuh dapat berubah karena meningkatnya lemak tubuh dan berkurangnya air dalam tubuh. Berat badan manusia sebagian besar dipengaruhi oleh adanya kandungan lemak. Defisiensi asam-aam lemak esensial dan protein dapat menekan akivitas sistem oksidasi mikrosom.

3. Lama Bekerja

Seperti halnya toksikan lain, efek toksik kromium berkaitan dengan tingkat dan lamanya pajanan. Umumnya, makin tinggi kadar kromium di udara dan makin lama pajanan, efek toksik akan lebih besar .

4. Jenis Kelamin

Hewan jantan dan betina dari spesies yang sama biasanya bereaksi erhadap toksikan dengan cara yang sama pula.

BAB III

KESIMPULAN

1.Kromium digunakan dalam industri sebagai pelapisan logam.

2.Sebagian besar pekerja yang berhadapan dengan kromium menderita dermatitis.

3.Kromium yang bereaksi dengan udara dapat meledak.

4.Kromium (VI) diketahui sebagai penyebab kanker paru.

5. Daya racun kromium dipengaruhi umur,berat badan,jenis kelamin dan lama bekerja.

DAFTAR PUSTAKA

http://ehsablog.com/?s=dampak+penggunaan+kromium

http://mariasisilia.multiply.com/journal/item/4?&show_interstitial=1&u=/journal/item

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s